Minggu, 22 Februari 2015

Januari 2015 -Yudisium dan Wisuda

Selasa, 6 Januari 2015
Dha bersama teman-teman yang janjian untuk bertemu di depan gedung kampus 3, layaknya saat kami masih jadi anak kuliahan yang heboh sms ketika mau touring, masuk kelas, pergi ke kantin, de-el-el; "where are u?" "which room.." "wait a minute, otw.." "sorry I will be late. hehe"

Hari itu kami diundang fakultas untuk mengikuti acara yudisium di sebuah gedung pertemuan. Tidak banyak mahasiswa yang mengerti definisi dari yudisium sendiri itu apa. Mereka hanya cukup hadir dan mengikuti proses acara. Beberapa malah bisa menyebutkan bahwa yudisium itu pelepasan; perpisahan. Jadi, biar pembaca tidak pusing bertanya-tanya juga, Dha definisikan secara singkat terlebih dahulu yah..

Yudisium sebenarnya berasal dari bahasa latin yaitu "Judicium" yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi "Judgment". Yudisium bisa berarti pengumuman nilai kepada mahasiswa sebagai proses penilaian akhir dari seluruh mata kuliah yang telah ditempuh dan penetapan nilai dalam transkip akademik, serta memutuskan lulus atau tidaknya mahasiswa dalam menempuh studi selama jangka waktu tertentu. Keputusan yudisium dinyatakan dengan keputusan dekan atau direktur program pascasarjana.
Kami bersepuluh tiba di gedung dan benar saja, mahasiswa lain sudah dalam barisan antrian untuk absen dan masuk ke gedung. Suasana ribut, bukan tonjok-tonjokan atau bagaimana, melainkan saling sapa, salam, bertanya kabar; ya itu disebut kerinduan. Masing-masing jurusan memiliki corak batik (kami diwajibkan memakai pakaian resmi, batik) dan warna yang sama. Dha masih ingat, prodi matematika dengan warna hijau toska, bahasa Indonesia dengan merah jambu, ekonomi kuning dan bahasa Inggris biru dongker. Perihal kostum ini sudah Dha obrolkan dengan pihak prodi untuk diseragamkan berdasarkan permintaan dr kerabat mahasiswa juga, prodi pun mendukung. Namun, karena waktu yang terbilang mendesak juga jumlah mahasiswa prodi bahasa Inggris ini paling bejibun (mencapai 400 mungkin) maka akan sulit dan 'beresiko' jika harus mengkoordinir seluruh mahasiswa untuk memakai kostum yang sama. Maka dengan tampilan dan kebebasan yang tetap seragam, prodi dan teman-teman sejurusan menyetujui untuk menggunakan kostum batik bercorak bebas, namun berwarna biru dongker.

Mengantri cukup panjang dan lama.. dan saat tiba di depan meja absen.. "loh nama saya kok dilingkari Pak? masih ada tunggakan atau bermasalah apa ini?" antara kaget dan polos. Haha.. ternyata dapat tempat duduk VIP, sudah disediakan bagi yang cum laude dan lulusan terbaik. Alhamdulillah, masuk 10 besar (senang? udah kaya anak SD bagi raport. hehe). Kejutan lainnya adalah dapat boneka cantik dari fakultas juga dapat foto bersama rektor dan dekan plus pejabat prodi.. Aduh bagaimana jika disandingkan, duduk berhadapan, atau bahkan berdialog dengannya, manusia pujian semesta alam.. Baginda Nabi Muhhamad SAW.. Allahumma Sholli Alaa Sayyidinaa Muhammad.. lagi dan lagi berucap syukur. Ini hanya sementara, prestasi dunia harus biasa mengantar ke surga-Nya ^_^

Sebelum hari H, ada banyak yang nyeletuk untuk tidak menghadiri acara tersebut "Ah buat apa datang, kan sudah setelah pengumuman sidang.." Nah ini, jangan salah... sesudah selesai sidang, peserta sidang akan menunggu keputusan yang menentukan dia lulus/tidak. Itu disebut yudisium, tapi bisa disebut yudisium jurusan. Disaat tersebut (biasanya) akan diumumkan peringkat teratas (biasanya 1-3) berdasarkan IPK akhir dari para peserta sidang saat itu (otomatis hanya di jurusan masing-masing). Dha masih ingat tanggal 13 September 2014 dimana menjadi saksi perjuangan dalam waktu 40 menit untuk usaha 4 tahun.. sidang, dimana ada rasa bangga, bahagia, tekad dan semangat dengan berhasil memiliki gelar S.Pd. Ah, back to the story, selain itu menghadiri yudisium itu menjadi moment yang tidak akan terlupakan dimana kami dapat berkumpul dengan teman-teman seperjuangan. Kalian pasti sudah dan atau akan merasakan kehilangan saat orang-orang yang biasa buat hari-hari elo konyol, heboh, warna-warni bahkan absurd sekaliipun; pasti sepi banget (!) Jadi itulah mengapa, kami rela saling menunggu untuk ramai-ramai datang ke gedung bersama teman sekelas. Iya, tahun awal masuk jumlah mahasiswa di kelas kami ada 29 atau bahkan 30.. tahun ke tahun menyusut, hingga sampai pada tahun kelulusan kami hanya bersepuluh yang maju duluan untuk lulus tepat waktu. Itulah, manusia hidup berkelompok, tetawa riang atau bahkan terduduk dalam meja diskusi; bertukar pikiran, makanan bahkan cerita mistis sekalipun. Namun menjelang tingkat akhir, jangan pernah menyamakan atau melakukan pergerakan yang sama dari waktu ke waktu. Tingkat satu, dua mungkin masih bisa berleha-leha, tertawa hahaha hihihi.. Tapi ketika tingkat tiga mau tidak mau mahasiswa seharusnya sudah sadar kalau mereka bukan hanya makhluk sosial saja, tapi sebagai kaum intelektual dimana mereka memiliki pemikiran, obrolan bahkan tindakan yang dekat akan pengabdian, penelitian, pengembangan kualitas hidup sekitarnya. Namun, disaat sudah memasuki penyusunan skripsi, yang biasa bergerombol, tertawa hahaha hihihi akan sangat jarang menyempatkan waktu untuk itu, mereka akan lebih sering berhadapan dengan laptop, dosen, ya bertujuan satu; menyelesaikan tugas akhir. Semester 7 dan 8 akan sangat membuat mereka total berpikir dan bertindak. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia memiliki ajang cobaan tersendiri untuk menyelesaikan kewajiban ini dan itu. Jadi back to the Judicium, acara ini penting untuk diikuti dan satu lagi, ini bukan wisuda. Hehe. Apa itu wisuda? Akan Dha ceritakan next. Thanks for reading :)





Text Widget

Copyright © Never Stop on the Way | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com