Saya menyebutnya Pendatang, entah nanti kamu mau komentar apa. Setuju atau tidak, aku tetap sebut dia -pendatang.
Pukul 20.35. Sudah terlalu larut untuk seorang gadis berhijab masih memilih memojokkan diri, membaca di perpustakaan kampus. Bahkan jika boleh saat itu, saya ingin menarik lengan yang dibalut sarung tangan itu untuk beranjak. Dua puluh lima menit lagi tutup, apa dia menunggu diusir petugas? Apa tempat kost dia dekat dari sini? Apa dia terlalu asik membaca? Lihat, dia tetap tertunduk tidak mengganti halaman buku. Tangannya yang memegang entah pulpen, entah pensil itu diam, tidak sibuk mencorat-coret. Mungkin karena saya sudah cukup penat dengan paper resume jurnal, saya memilih mengamati sekitar dan sibuk berpikir tentang dia -yang entah siapa. Angin dan cuaca malam diluar saat itu tidak terlalu ribut, membiarkan kami, yang berada di dalam perpus larut tidak kenal waktu. Mataku bergerak melempar pandang, mungkin bosan pada pojokan kanan yang ada dirinya, berpindah tersadar dengan siapa yang ada dihadapanku.
Pukul 20.50. "Belum pulang? Sebentar lagi tutup, sudah terlalu larut. Besok kan masih bisa dilanjut.." Benar saja, seperti ada sepasang mata mengawasi, tapi kenapa aku tidak sadar? Ah, dia yang dihadapanku itu lelaki yang sedang aku hindari dua bulan terakhir ini. Siapa ingin menyebut namanya, jangan tanyakan sekarang dan tidak akan disebutkan sekarang. Tidak dijawab, tidak pula ingin ada percakapan lagi, saya langsung berkemas dan bergegas pergi. Sempat terlihat lengkung senyum yang dulu bisa membuat saya terbang, tapi kini? Siapa juga yang ingin bahas sekarang. Tidak sadar, sepenggal kalimat dari lelaki itu membuat dia yang berada di pojok tersadar. Ah sial, ternyata gadis itu ketiduran. Dia juga sama, sadar akan diperhatikanku, berkemas dan bergegas. Mata itu, mata yang sekilas saya lihat saat bercermin; tentang kelelahan.
Pukul 20.35. Sudah terlalu larut untuk seorang gadis berhijab masih memilih memojokkan diri, membaca di perpustakaan kampus. Bahkan jika boleh saat itu, saya ingin menarik lengan yang dibalut sarung tangan itu untuk beranjak. Dua puluh lima menit lagi tutup, apa dia menunggu diusir petugas? Apa tempat kost dia dekat dari sini? Apa dia terlalu asik membaca? Lihat, dia tetap tertunduk tidak mengganti halaman buku. Tangannya yang memegang entah pulpen, entah pensil itu diam, tidak sibuk mencorat-coret. Mungkin karena saya sudah cukup penat dengan paper resume jurnal, saya memilih mengamati sekitar dan sibuk berpikir tentang dia -yang entah siapa. Angin dan cuaca malam diluar saat itu tidak terlalu ribut, membiarkan kami, yang berada di dalam perpus larut tidak kenal waktu. Mataku bergerak melempar pandang, mungkin bosan pada pojokan kanan yang ada dirinya, berpindah tersadar dengan siapa yang ada dihadapanku.
Pukul 20.50. "Belum pulang? Sebentar lagi tutup, sudah terlalu larut. Besok kan masih bisa dilanjut.." Benar saja, seperti ada sepasang mata mengawasi, tapi kenapa aku tidak sadar? Ah, dia yang dihadapanku itu lelaki yang sedang aku hindari dua bulan terakhir ini. Siapa ingin menyebut namanya, jangan tanyakan sekarang dan tidak akan disebutkan sekarang. Tidak dijawab, tidak pula ingin ada percakapan lagi, saya langsung berkemas dan bergegas pergi. Sempat terlihat lengkung senyum yang dulu bisa membuat saya terbang, tapi kini? Siapa juga yang ingin bahas sekarang. Tidak sadar, sepenggal kalimat dari lelaki itu membuat dia yang berada di pojok tersadar. Ah sial, ternyata gadis itu ketiduran. Dia juga sama, sadar akan diperhatikanku, berkemas dan bergegas. Mata itu, mata yang sekilas saya lihat saat bercermin; tentang kelelahan.