Sabtu, 16 Mei 2015

Sebut Dia: Pendatang

Saya menyebutnya Pendatang, entah nanti kamu mau komentar apa. Setuju atau tidak, aku tetap sebut dia -pendatang.

Pukul 20.35. Sudah terlalu larut untuk seorang gadis berhijab masih memilih memojokkan diri, membaca di perpustakaan kampus. Bahkan jika boleh saat itu, saya ingin menarik lengan yang dibalut sarung tangan itu untuk beranjak. Dua puluh lima menit lagi tutup, apa dia menunggu diusir petugas? Apa tempat kost dia dekat dari sini? Apa dia terlalu asik membaca? Lihat, dia tetap tertunduk tidak mengganti halaman buku. Tangannya yang memegang entah pulpen, entah pensil itu diam, tidak sibuk mencorat-coret. Mungkin karena saya sudah cukup penat dengan paper resume jurnal, saya memilih mengamati sekitar dan sibuk berpikir tentang dia -yang entah siapa. Angin dan cuaca malam diluar saat itu tidak terlalu ribut, membiarkan kami, yang berada di dalam perpus larut tidak kenal waktu. Mataku bergerak melempar pandang, mungkin bosan pada pojokan kanan yang ada dirinya, berpindah tersadar dengan siapa yang ada dihadapanku.

Pukul 20.50. "Belum pulang? Sebentar lagi tutup, sudah terlalu larut. Besok kan masih bisa dilanjut.." Benar saja, seperti ada sepasang mata mengawasi, tapi kenapa aku tidak sadar? Ah, dia yang dihadapanku itu lelaki yang sedang aku hindari dua bulan terakhir ini. Siapa ingin menyebut namanya, jangan tanyakan sekarang dan tidak akan disebutkan sekarang. Tidak dijawab, tidak pula ingin ada percakapan lagi, saya langsung berkemas dan bergegas pergi. Sempat terlihat lengkung senyum yang dulu bisa membuat saya terbang, tapi kini? Siapa juga yang ingin bahas sekarang. Tidak sadar, sepenggal kalimat dari lelaki itu membuat dia yang berada di pojok tersadar. Ah sial, ternyata gadis itu ketiduran. Dia juga sama, sadar akan diperhatikanku, berkemas dan bergegas. Mata itu, mata yang sekilas saya lihat saat bercermin; tentang kelelahan.

Jumat, 15 Mei 2015

Bagian Perjuangan, Sarjana Muda (?)



12 Mei 2015
Disaat banyak orang sudah berlari, ada saja yang masih bersantai, konyol kan? Atau memang lumrah? Hehe. Pukul 06.00 suasa Gerlong Girang sudah padat, hilir mudik kendaraan, percepatan langkah kaki dengan berbagai tujuan dan peran. Ngabubur di wilayah gerlong girang, pukul 06.30… telpon dari seorang kawan “kamu dimana? Saya udah di gedung. Gak usah bawa papan kan ya? Eh ada info wawancara jadi hari ini. Aaaahh gila gimana ini..” celoteh lancang tapi terdengar getir dari gadis cute, sebut saja namanya Putri. Hehe. “enggak, saya bawa alat tulis sama kartu aja. Iya da saya mah udah nebak disatuharikan.. udah penuh? Masih ngabubur eh, udah sarapan? mau dibawakan?” makan tanpa dikunyah, langsung telan. Mulai cemas takut gak keburu. Hahaa. Estimasi perjalanan menuju lokasi hajat (loh?) sekitar 10 menit, jalan cepat. “Enggak usah, da aku udah sarapan di rumah, sama bawa roti..” telepon terputus.
Sahabat saya, sebut saja guide manis bernama Indah, lahap menghabiskan sarapan, mungkin dia tak ingin sahabatnya ini tertinggal dan kalah sebelum perang haha. Melaju, disaat kami, saya dan Indah berjalan menyusuri gang sempit, mata kami berbinar tertuju pada belakang punggung seorang muslimah, tertuju pada tulisan di tas itu… LPDP. Sontak kami berpandangan dan tersenyum, bergumam “keren. Motivasi pagi..” Ini adalah jawaban nyata, ketika saya ingat betul pernah bertanya pada salah satu dosen saya yg diterima beasiswa luar negri melalui LPDP “Pak, apakah LPDP menerima beasiswa dalam negri, karena seringnya yang saya temui
06.53 Merasakan lelahnya naik tangga (baru juga menuju lantai 3 belum lantai 10 atau lebih) karena lift ngantri dan padat, gedung pascasarjana UPI. Pagi itu sebelum pukul 07.00 gedung tersebut sudah ramai oleh peserta UM. Saya mungkin satu dari sekian yang dibilang nyantai abis. Rasanya masuk ruangan berisikan 15-20 orang, tak saling kenal.. saya bisa apa atuh selain tertunduk malu-malu meong lantar mata ini cepat mencari dimana meja dan kursi saya haaha. Rasanya duduk di kelas pascasarjana itu ternyata enggak enak. Haha. Kenapa? Satu, karena pada hari itu I was getting period. You know lah yaa, mules gak ketahan, perut keram sedangkan otak harus siap on fire. Dua, duduk tepat dibawah AC.. kedinginan. Mau minta peluk, tapi sama siapa atuh, Cuma bias gigit pensil 2B haha. Tiga, saat itu duduk sebagai peserta jadi ya gitu serba salah. Mau nyanyi-nyanyi biar suasana gak tegang bakal dipandang orang gila sama yang lain. Beda hal kalau ini sekelas udah saling kenal, mungkin bias gila bareng pas harus ngumpulkan proposal research sebagainya. Haha. Yaudah, Cuma bias mainan hp, berharap gitu ada yg kirim sms yang isinya support, kayak gini “semangat sayang, jangan lupa doa”. Eh enggak ada. Haha lagi. Yaudah sih, sms mbu, abah.. “Sudah di ruang ujian. Bismillah..”
Jam istirahat, saat itulah terdengar pengumuman yang membenarkan kecemasan Putri pagi tadi, bahwa wawancara yang aslinya keesokan hari dimajukan jadi siang itu -disatuharikan. Belum saja otak ini adem, udah kalang kabut ini otak berpikir yang enggak-enggak. No preparation. Selalu saja, Araa Ara. Saya mendatangi ruangan si Putri, saya di ruang 3.63, dia di ruang 3.50 ujung ke ujung. Ternyata di ruang 03.63 ada teteh cantik, kakak tingkat saya, sebut aja namanya Cantik. Jadilah kami para ladies hebring, alias heboh menebak kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang keluar saat wawancara.
Ujian tulis telah dilalui dengan aman. Pertama Ujian  Bahasa Inggris, semua tentang reading. Hanya satu-dua soal menanyakan grammar. Disitu saya merasa kesal, sejujurnya saya (masih) malas banyak membaca dan berlatih konteks. Kerasa kan jadinya sulit menjawab. Kedua, TPA (Tes Potensi Akademik, ini yang bikin saya sedikit terhibur, lancar. Terdiri dari 4-5 bagian. Disini juga dituntut membaca, ditambah nalar, hitung-hitungan, dan yang bikin sedikit kesal adalah soal gambar. Itu buku soal saya bolak-balik, angger we teu nemu, untung gak saya jungkir balikkan meja. Haha. Belum juga lulus keterima udah rusak fasilitas. RUSUH. Ada berbagai jenis soal, disini pentingnya berlatih jauh hari sebelum hari H. Ya biasakan sehari minimal 50-100 untuk ngulik soal, terutama ngulek angka. Biar gak kaget, sama soal dan target waktu. 120 soal dalam 120 menit. No more.
Istrahat, sejenak merasakan sejuknya lantai mesjid Al-Furqon. Kalau saja gak ingat siang itu ada jadwal dadakan wawancara, saya sudah memilih tidur guling-guling di lantai mesjid yang super adem. Hehe..

Bagian lucu dan gemesin dari perjalanan ini ada di season wawancara. Tapi nanti akan saya ceritakan, nanti. Saya kenalkan terlebih dulu tentang Putri, teman angkatan. Dia cerdas, bersemangat, dan cute. Bagaimana tidak dia adalah mahasiswi terbaik di jurusanku. Sedangkan aku? Apalah-apalah. Ada lagi teh Cantik, kakak tingkatku. Konon, cerita dari Putri, dia adalah salah satu guru pronunciation di Pare. Pantas aja, speaking nya gilaaa. Gurih dan renyah, ditambah wajahnya yang kebulean dibalut jilbab modis. Manis dan Cantiik. Aku mah apalah-apalah. Tapi yang membuat saya jauh berpikir adalah, bukan siapa saya.. tapi seberapa besar persiapan saya untuk berkompetisi dengan dua gadis cantik dan cemerlang ini? Sedangkan kamu tau jumlah total peserta mencai ribuan, jurusan kami bertiga sama, magister bahasa Inggris yang menjadi favorit peserta mencapai 400 lebih. Berapa yang diterima, belum tahu berapa.. Diri saya sendiri sering menegur dan menenangkan.. Jangan hitung seberapa banyak pesaingmu, tapi hitunglah seberapa kemampuanmu untuk kau lampui kekuranganmu. Keep moving!

Text Widget

Copyright © Never Stop on the Way | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com