Senin, 29 Juni 2015

Sebut Dia: Pendatang #2

Aku berjalan, lurus tajam menatap kedepan memegang senter kecil. Namun telingaku mendengar, ada langkah lain di belakang. Entah apa, aku enggan peduli -tak menengok.

Pukul 21.50
Pulang dari perpus dengan suasana hati dan suasana malam yang tak biasa aku berjalan. Pertama, ini sudah terlalu larut. Biasanya pukul 21.50 aku sudah bisa melempar tas dan buku-buku di kamar kosan. Biar terbilang sempit tapi itu menjadi ruang surgaku setelah perpus. Ditambah pula langkahku yang begitu lambat, seharusnya perjalanan bisa ditempuh dalam kurun waktu kurang dari 10 menit, tapi kali ini hampir 15 menit. Kedua, otakku yang tidak juga berhenti memikirkan si Pendatang dan dia. Secara spontan aku ikut tersenyum hanya karena selintas aku mendapat senyuman itu lagi. Aahh, tidak tidak, segera aku mengingat apa yang membuat aku yakin bahwa dia tidak semanis senyumannya. Manis? Ahh, siapa yang mengakui itu? Aku? Tidak tidak. Aku hampir jatuh tersandung karena tidak fokus. Mengalihkan pikiran ini dengan mengingat si Pendatang. Ya masih ku sebut Pendatang, Dia yang baru aku temukan di pojok perpus, yang memiliki mata sepertiku, menggoreskan makna lelah, lebih lelah dariku (?)

Text Widget

Copyright © Never Stop on the Way | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com