Selamat Siang,
Mari istirahat sejenak setelah bekerja \=D/
Dalam tulisan saya yang masih berantakan di Tulisan (bukan) untuk Guru telah dipaparkan bahwa guru adalah kehormatan. Tulisan siang ini saya khusus-kan untuk para fresh graduated, khususnya dari keguruan yang telah terpanggil jiwanya untuk mencerdaskan bangsa, mengajar. Tulisan ini juga sebenarnya untuk mengingatkan penulis sendiri, ya saya ini, yang dimana masih belum juga secara konsisten turun ke sekolah.
Guru muda, berseri depan kamera. Judul tersebut mendadak muncul dipikiran saya ketika banyak sekali foto muncul (lagi-lagi) di akun medsos. Ya itu, mereka mayoritas teman-teman saya yang telah menjadi guru. Saya memandang wajah mereka, tampak cantik dan gagah dengan seragam safari itu, bahkan memakai baju PGRI. Saya juga sering memakai seragam safari dan tahukah? Rasanya bangga, senang, percaya diri meningkat dan hati bersorak saat diri mematut depan cermin "aaahh cantik!" XD
Sayangnya, banyak foto yang full face atau sekadar memberi pengertian tentang kecantikan yang sama sekali tidak perlu di-publish bagi seorang guru. Contoh, sudah rapi bersafari, berfoto malah menjulurkan lidah, atau malah terpotret sedang merokok *aah sayang Pak. Sekarang ini, saya pribadi merasa ganjil ketika melihat wajah ayu atau gagah tersenyum lebar tanpa aktivitas atau sesuatu yang dibanggakan, selain fisik semata. Coba dimana letak kehormatan pada guru ketika siswa nyeletuk/sekedar komen lewat medsos "ibu cantixx, ibu besok masuk ya." "pak ganteng, senyumnya manis, nanti di kelas senyum terus ya!!" Penghormatan untuk guru sekadar lewat kata-kata, hadiah, bahkan pujian yang menjuru pada fisik, bukan untuk keterampilan mengajar dan atau pengabdian sebagai tenaga pendidik.
Saya jadi teringat, pesan salah seorang dosen Microteaching saat para mahasiswanya akan melaksanakan PPL.. "nanti kalau foto bersama murid tidak perlu peace atau bertingkah, kalian guru." Namun nampaknya, banyak yang melupakan pesan ini sampai sekarang mereka menjadi guru seseungguhnya. Tidak salah memang, tapi saya pribadi jadi sakit mata. Pastinya saya ingin lebih tahu tentang anak didik mereka, seperti apa wajahnya, apakah ada yang berambut kribo atau berkulit putih seperti orang asing? Saya lebih ingin melihat foto anak didik yang memegang piala tersenyum bangga berkat didikan mereka, para guru muda. Bahkan suatu saat, saya ingin melihat salah satu wajah teman saya muncul tercetak di koran/ berita online, tersenyum dengan wajah berseri depan kamera, berhasil memiliki prestasi membantu mencerdaskan bangsa, bukan melulu lewat medsos yang seringnya hanya tentang fisik :)
Tulisan ini coretan, kegelisahan belakangan ini, ketika saya benar-benar sadar kalau menjadi sarjana muda tidaklah mudah. Bukan sekedar lulus, tapi terus melaksanakan pengabdian yang lebih jauh di universitas kehidupan.
Mari istirahat sejenak setelah bekerja \=D/
Dalam tulisan saya yang masih berantakan di Tulisan (bukan) untuk Guru telah dipaparkan bahwa guru adalah kehormatan. Tulisan siang ini saya khusus-kan untuk para fresh graduated, khususnya dari keguruan yang telah terpanggil jiwanya untuk mencerdaskan bangsa, mengajar. Tulisan ini juga sebenarnya untuk mengingatkan penulis sendiri, ya saya ini, yang dimana masih belum juga secara konsisten turun ke sekolah.
Guru muda, berseri depan kamera. Judul tersebut mendadak muncul dipikiran saya ketika banyak sekali foto muncul (lagi-lagi) di akun medsos. Ya itu, mereka mayoritas teman-teman saya yang telah menjadi guru. Saya memandang wajah mereka, tampak cantik dan gagah dengan seragam safari itu, bahkan memakai baju PGRI. Saya juga sering memakai seragam safari dan tahukah? Rasanya bangga, senang, percaya diri meningkat dan hati bersorak saat diri mematut depan cermin "aaahh cantik!" XD
Sayangnya, banyak foto yang full face atau sekadar memberi pengertian tentang kecantikan yang sama sekali tidak perlu di-publish bagi seorang guru. Contoh, sudah rapi bersafari, berfoto malah menjulurkan lidah, atau malah terpotret sedang merokok *aah sayang Pak. Sekarang ini, saya pribadi merasa ganjil ketika melihat wajah ayu atau gagah tersenyum lebar tanpa aktivitas atau sesuatu yang dibanggakan, selain fisik semata. Coba dimana letak kehormatan pada guru ketika siswa nyeletuk/sekedar komen lewat medsos "ibu cantixx, ibu besok masuk ya." "pak ganteng, senyumnya manis, nanti di kelas senyum terus ya!!" Penghormatan untuk guru sekadar lewat kata-kata, hadiah, bahkan pujian yang menjuru pada fisik, bukan untuk keterampilan mengajar dan atau pengabdian sebagai tenaga pendidik.
Saya jadi teringat, pesan salah seorang dosen Microteaching saat para mahasiswanya akan melaksanakan PPL.. "nanti kalau foto bersama murid tidak perlu peace atau bertingkah, kalian guru." Namun nampaknya, banyak yang melupakan pesan ini sampai sekarang mereka menjadi guru seseungguhnya. Tidak salah memang, tapi saya pribadi jadi sakit mata. Pastinya saya ingin lebih tahu tentang anak didik mereka, seperti apa wajahnya, apakah ada yang berambut kribo atau berkulit putih seperti orang asing? Saya lebih ingin melihat foto anak didik yang memegang piala tersenyum bangga berkat didikan mereka, para guru muda. Bahkan suatu saat, saya ingin melihat salah satu wajah teman saya muncul tercetak di koran/ berita online, tersenyum dengan wajah berseri depan kamera, berhasil memiliki prestasi membantu mencerdaskan bangsa, bukan melulu lewat medsos yang seringnya hanya tentang fisik :)
Tulisan ini coretan, kegelisahan belakangan ini, ketika saya benar-benar sadar kalau menjadi sarjana muda tidaklah mudah. Bukan sekedar lulus, tapi terus melaksanakan pengabdian yang lebih jauh di universitas kehidupan.
Aku Berselfie Maka Aku Ada...:-D
BalasHapus