Senin, 24 November 2014

Tulisan (bukan) untuk Guru

Selamat Pagi, Selamat Beraktivitas
Selasa, 25 Nopember 2014, tidak perlu menunggu pukul 06.00 pagi, sudah penuh ucapan congratulations di berbagai akun medsos.

Happy teacher's day \=D/
Selamat Hari Guru Nasional ke-69 :)
Terima kasih guru-guruku, jasamu begitu hebat dalam hidupku!

Tapi dari semua ungkapan sejauh ini saya jauh lebih tertarik pada tulisan Anies Baswedan: Surat untuk Ibu dan Bapak Guru. Tidak perlu lagikan saya jelaskan definisi detail tentang guru itu sendiri (toh bisa langsung buka kamus atau mudahnya lari ke google :D). Sedikit saja saya ambil pikiran dari Sang Pendiri Indonesia Mengajar sekaligus Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menulis pagi ini, bahwa guru adalah kehormatan.

Pemerintah dengan berbagai upaya memfasilitasi sekolah sebaik mungkin (tolong jangan ribut disini soal anggaran dana dan pemerataan yang belum real, bisa repot saya :D) untuk kepentingan pendidikan Indonesia, begitu juga berbagai pelatihan untuk tenga kependidikan. Tujuan dari semua gerakan yang ada adalah satu, mereasikan cita-cita dan kewajiban negara, mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi walau satu tujuan, ini mengerahkan lebih dari sekedar seribu rancangan. Cita-cita ini jelas tidak bisa dilaksanakan hanya dengan satu tangan. Kewajiban ini tentu tidak dianugerahkan hanya pada satu profesi, yaitu guru.

Kehormatan yang diteriakkan oleh orang-orang bukanlah sekadar naiknya honor tapi lebih dengan naiknya kepedulian untuk menjaga apa yang sudah diajarkan guru di sekolah. Bagaimanapun, guru bergerak di sebuah bangunan (jangan ungkit lagi bangunan-bangunan yang hanpir runtuh, bocor dan lainnya) yang seringnya siswa kurang nyaman karena pasti dihadapkan homework, proyek, tugas lainnya. Sedangkan siswa pasti kembali ke rumah, selelah dan semarah apapun dia pada gurunya, dia kembali dalam pelukan keluarga dan teman sebaya.

Kehormatan sangatlah dekat dengan kata penjagaan. Mari kita jujur, seberapa banyak siswa yang (berani) menegur, menyapa, bersalaman, mencium tangan ke gurunya saat di luar jam sekolah? Ini soal kepedulian yang dilatih oleh lingkungan, bukan sekolah.

Sedikit nambah tulisan, saya (sudah menjadi) seorang sarjana lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Banyak dari teman saya yang telah menjadi guru di berbagai sekolah. Saya acungkan jempol salut untuk mereka ya karena memang kami dididik untuk menjadi guru dan mereka bisa (memilih) terjun langsung dilapangan yang tepat. Sebelumnya, kami sudah dilatih untuk mengikuti Program Pengenalan Lapangan (PPL) yang ditugaskan langsung untuk mengajar dan membantu segala kegiatan di sekolah. Dari program tersebutlah saya dan beberapa mahasiswa yang sebelumnya belum merasakan langsung atmosfer sekolah menjadi sadar se-sadar-sadarnya bahawa tugas dan kewajiban guru amatlah berat. Sedangkan siapa saya sekarang? Siapa? Ah, peduli apa, tidak usah dibahas sekarang ini, intinya saya juga mengambil porsi untuk pendidikan Indonesia yang lebih cemerlang *tring* :) Baca juga Guru Muda, Berseri depan Kamera

Kembali ke tulisan, apakah harus bisa merasakan pedih, getir perjuangan dulu untuk bisa peduli? untuk bisa menjaga? Aduhai, semua orang adalah guru. Coba kita tengok pada seorang ibu dengan bayi yang menginjak usia 3 tahun. Sang bayi dengan lucu sudah bisa berjalan, sang ibu berteriak melarang ketika anak tersebut hendak ke jalan raya. Seorang ayah pulang bekerja dengan keletihan yang ada, sang anak gembira menyambut mengajak dia bermain. Bahkan yang belum menikah sekalipun, memiliki adik di SMP/SMA bertanya berbagai soal padamu karena dia merasa sang kakak bisa membantu. Bagaimana bisa kita tidak menjaga? Ini tugas bersama. Mari menjaga kehormatan bersama :)

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung ^_^

Text Widget

Copyright © Never Stop on the Way | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com