12 Mei 2015
Disaat banyak orang sudah berlari, ada saja yang masih
bersantai, konyol kan? Atau memang lumrah? Hehe. Pukul 06.00 suasa Gerlong
Girang sudah padat, hilir mudik kendaraan, percepatan langkah kaki dengan
berbagai tujuan dan peran. Ngabubur di wilayah gerlong girang, pukul 06.30… telpon
dari seorang kawan “kamu dimana? Saya udah di gedung. Gak usah bawa papan kan
ya? Eh ada info wawancara jadi hari ini. Aaaahh gila gimana ini..” celoteh lancang
tapi terdengar getir dari gadis cute, sebut saja namanya Putri. Hehe. “enggak,
saya bawa alat tulis sama kartu aja. Iya da saya mah udah nebak disatuharikan..
udah penuh? Masih ngabubur eh, udah sarapan? mau dibawakan?” makan tanpa
dikunyah, langsung telan. Mulai cemas takut gak keburu. Hahaa. Estimasi
perjalanan menuju lokasi hajat (loh?) sekitar 10 menit, jalan cepat. “Enggak
usah, da aku udah sarapan di rumah, sama bawa roti..” telepon terputus.
Sahabat saya, sebut saja guide manis bernama Indah, lahap
menghabiskan sarapan, mungkin dia tak ingin sahabatnya ini tertinggal dan kalah
sebelum perang haha. Melaju, disaat kami, saya dan Indah berjalan menyusuri
gang sempit, mata kami berbinar tertuju pada belakang punggung seorang
muslimah, tertuju pada tulisan di tas itu… LPDP. Sontak kami berpandangan dan
tersenyum, bergumam “keren. Motivasi pagi..” Ini adalah jawaban nyata, ketika
saya ingat betul pernah bertanya pada salah satu dosen saya yg diterima
beasiswa luar negri melalui LPDP “Pak, apakah LPDP menerima beasiswa dalam
negri, karena seringnya yang saya temui
06.53 Merasakan lelahnya naik tangga (baru juga menuju
lantai 3 belum lantai 10 atau lebih) karena lift ngantri dan padat, gedung
pascasarjana UPI. Pagi itu sebelum pukul 07.00 gedung tersebut sudah ramai oleh
peserta UM. Saya mungkin satu dari sekian yang dibilang nyantai abis. Rasanya
masuk ruangan berisikan 15-20 orang, tak saling kenal.. saya bisa apa atuh
selain tertunduk malu-malu meong lantar mata ini cepat mencari dimana meja dan
kursi saya haaha. Rasanya duduk di kelas pascasarjana itu ternyata enggak enak.
Haha. Kenapa? Satu, karena pada hari itu I was getting period. You know lah
yaa, mules gak ketahan, perut keram sedangkan otak harus siap on fire. Dua,
duduk tepat dibawah AC.. kedinginan. Mau minta peluk, tapi sama siapa atuh, Cuma
bias gigit pensil 2B haha. Tiga, saat itu duduk sebagai peserta jadi ya gitu
serba salah. Mau nyanyi-nyanyi biar suasana gak tegang bakal dipandang orang
gila sama yang lain. Beda hal kalau ini sekelas udah saling kenal, mungkin bias
gila bareng pas harus ngumpulkan proposal research sebagainya. Haha. Yaudah, Cuma
bias mainan hp, berharap gitu ada yg kirim sms yang isinya support, kayak gini “semangat
sayang, jangan lupa doa”. Eh enggak ada. Haha lagi. Yaudah sih, sms mbu, abah..
“Sudah di ruang ujian. Bismillah..”
Jam istirahat, saat itulah terdengar pengumuman yang
membenarkan kecemasan Putri pagi tadi, bahwa wawancara yang aslinya keesokan
hari dimajukan jadi siang itu -disatuharikan. Belum saja otak ini adem, udah
kalang kabut ini otak berpikir yang enggak-enggak. No preparation. Selalu saja,
Araa Ara. Saya mendatangi ruangan si Putri, saya di ruang 3.63, dia di ruang 3.50
ujung ke ujung. Ternyata di ruang 03.63 ada teteh cantik, kakak tingkat saya,
sebut aja namanya Cantik. Jadilah kami para ladies hebring, alias heboh menebak
kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang keluar saat wawancara.
Ujian tulis telah dilalui dengan aman. Pertama Ujian Bahasa Inggris, semua tentang reading. Hanya
satu-dua soal menanyakan grammar. Disitu saya merasa kesal, sejujurnya saya
(masih) malas banyak membaca dan berlatih konteks. Kerasa kan jadinya sulit
menjawab. Kedua, TPA (Tes Potensi Akademik, ini yang bikin saya sedikit
terhibur, lancar. Terdiri dari 4-5 bagian. Disini juga dituntut membaca,
ditambah nalar, hitung-hitungan, dan yang bikin sedikit kesal adalah soal
gambar. Itu buku soal saya bolak-balik, angger we teu nemu, untung gak saya
jungkir balikkan meja. Haha. Belum juga lulus keterima udah rusak fasilitas. RUSUH.
Ada berbagai jenis soal, disini pentingnya berlatih jauh hari sebelum hari H.
Ya biasakan sehari minimal 50-100 untuk ngulik soal, terutama ngulek angka.
Biar gak kaget, sama soal dan target waktu. 120 soal dalam 120 menit. No more.
Istrahat, sejenak merasakan sejuknya lantai mesjid
Al-Furqon. Kalau saja gak ingat siang itu ada jadwal dadakan wawancara, saya
sudah memilih tidur guling-guling di lantai mesjid yang super adem. Hehe..
Bagian lucu dan gemesin dari perjalanan ini ada di season wawancara. Tapi nanti akan saya ceritakan, nanti. Saya kenalkan terlebih dulu tentang Putri, teman angkatan. Dia cerdas, bersemangat, dan cute. Bagaimana tidak dia adalah mahasiswi terbaik di jurusanku. Sedangkan aku? Apalah-apalah. Ada lagi teh Cantik, kakak tingkatku. Konon, cerita dari Putri, dia adalah salah satu guru pronunciation di Pare. Pantas aja, speaking nya gilaaa. Gurih dan renyah, ditambah wajahnya yang kebulean dibalut jilbab modis. Manis dan Cantiik. Aku mah apalah-apalah. Tapi yang membuat saya jauh berpikir adalah, bukan siapa saya.. tapi seberapa besar persiapan saya untuk berkompetisi dengan dua gadis cantik dan cemerlang ini? Sedangkan kamu tau jumlah total peserta mencai ribuan, jurusan kami bertiga sama, magister bahasa Inggris yang menjadi favorit peserta mencapai 400 lebih. Berapa yang diterima, belum tahu berapa.. Diri saya sendiri sering menegur dan menenangkan.. Jangan hitung seberapa banyak pesaingmu, tapi hitunglah seberapa kemampuanmu untuk kau lampui kekuranganmu. Keep moving!
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung ^_^