Assalamualaikum,
satu salam yang dapat lebih mempererat tali persaudaraan diantara umat Islam, karena dengan ucapan itu kita telah saling mendoakan kebaikan. Ucapan Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarakaatuh yang berarti secara harfiah; Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkah-Nya juga kepadamu. Jauh sebelum penghujung tahun 2014 saya sering menyapa setiap bulan dengan menulis berawalkan hashtag lalu salam. Contoh: #assalamualaikumSeptember #hello2014 #assalamualaikumMonday bertujuan ya untuk menyapa, didalamnya ada doa, doa kebaikan untuk hidup dalam memberi dan menerima (blablabla, hehe). Tolong jangan persoalkan disini tentang ucapan salam tersebut versi sms/ penyingkatan yang sering kita jumpai (haha).
Perihal cinta, pastilah menarik semua orang untuk belajar secara sadar menikmati. Tapi apalah perasaan yang tak pernah bisa dihitung kepastiannya, pengalaman menjadikan semua orang belajar; menikmati sakit, menikmati bahagia, menikmati untuk melepaskan, bahkan menikmati untuk tersenyum sekalipun hati menangis (hehe). Tunggu, saya tidak bermaksud kepada pembaca untuk mencari pengalaman itu dalam bentuk yang 'menyimpang'. Buku adalah teman terbaik kan? Membaca bisa mengajak kita keliling dunia kan? Jika kalian sependapat, katakan yes! (haha). Benar, malam ini saya mencoba untuk membuat resensi dari sebuah novel cinta (ehem) yang ditulis oleh Bunda Asma Nadia; Assalamualaikum Beijing!
"Laki-laki, di mana kau sandera kegagahan yang biasa menyelimuti kata-katamu?"
Tulisan itu sebagai pembuka dari bagian awal, Dewa.
Ketika membaca tulisan ini, baru diawalnya saja, saya sudah menerka selanjutnya ada kekecewaan, sakit, dan pengharapan. Benar, Dewa adalah laki-laki yang begitu menaruh perhatian kepada Ra sejak dulu, jauh sebelum mereka satu universitas. Diam-diam Dewa mengikuti kemana Ra pergi. Sampai mereka memiliki waktu empat tahun bersama, saling mengenal dan akhirnya menentukan tanggal pernikahan. Ra, panggilan kesayangan Dewa untuk Asma (kalian akan tahu kenapa Ra? setelah membacanya sendiri. hehe), adalah perempuan yang cerdas, enerjik, tegas, pandai mengelola suasana hati, pandai mengambil sikap, tidak begitu ayu; tidak tinggi, berkulit coklat, dan mata besar. Menurut saya, Dewa adalah lelaki tampan, baik, dan setia. Sayangnya nasib yang membawa dia untuk khilaf, larut dalam godaan sesaat yang sesat dari perempuan lain, Anita. Perempuan sekantor yang sangat berharap hidup berdampingan dengan Dewa. Berhasil! Pernikahan yang tinggal selangkah itu gagal, dan pasti menaruh luka untuk semua.. "Nafsu yang purba menyeretku ke lubang tanpa jiwa.."
Asma pandai mengelola hati dan tegas bersikap, diambilnya satu tugas dari perusahaan untuk pergi ke Beijing. Apa salahnya, dia bisa menghirup udara lebih segar. Dia hanya ingin berdamai, istilah sekarang move on. Zhongwen, lelaki yang memiliki rahang tegas, lelaki Cina yang memanggil Asma dengan sebutan Ashima. Lelaki yang pada akhirnya menjadi suami dan menguatkan Asma dalam segala bentuk ujian. Walau keberanian Zhongwen untuk datang bisa dibilang terlambat. Benar, dia pangeran tanpa kuda.
Novel ini berakhir happy ending, tapi menurut saya kisah didalamnya itu haru. Bunda Asma menyuguhkan berbagai cerita cinta yang berkualitas. Siapapun, seorang muslim akan terenyuh membaca kisah Mush'ab bin Umar. Aah betapa kecil pengorbanan cinta manusia saat ini dibanding kecintaan para syahid yang bermandikan darah, terpenggal anggota tubuh untuk pembuktian cintanya. Zhongwen pun awalnya non-muslim, sampai dia terpanggil, dan belajar Islam. Cintanya pada Ashima menyadarkan dan mendekatkan dia pada cinta yang hakiki, pada keselamatan, Islam.
Saya selesai menyelesaikan novel ini kurang dari lima jam, memaksa saya untuk segera menyelesaikan membaca. Seringnya kesel pas ada nama Anita dan Dewa. Benar, Dewa dan Anita menjadi suami istri, tapi kalian akan tahu, "hati dan jiwa Dewa hanya untuk Ra seorang" itulah yang terus dikatakan. Bagian yang paling seru tentu saja dimiliki oleh Zhongwen dan Ashima, eh Asma.
Bahkan Zhongwen, yang saat itu belum beragama Islam, bisa untuk menahan dan menghormati Asma. Aaah benar saja, lelaki selalu dilihat dari perkataannya, dari sejauh mana dia bertindak ^_^
"Jika tak kau temukan cintamu, biarkan cinta yang menemukanmu." saat itu Zhongwen kehilangan Ashima-nya (read: Asma), dia yang sulit memahami perasaan terus berperang menyimpulkan apakah itu rindu? atau cinta? Sampai pada satu titik, dia benar-benar merasa kehilangan dan membutuhkan, Ashima-Nya begitu berharga.
Finally? So that?
Siapapun yang belum membaca novel ini, jangan lewatkan 30 Desember 2014 akan tayang di bioskop. Saya sarankan untuk membaca novelnya dulu. Cerita ini benar-benar dikemas untuk orang-orang yang mudah patah hati, bahkan para pengecut sekalipun. Biar mudah move on, tidak mudah tergoda, dan garis besar dari cerita ini mengatakan bahwa; cinta sejati itu ada! Sudah Allah takdirkan, tinggal dijemput dengan akad. Bukankah cinta itu hanya tentang satu hal yaitu keberanian? Keberanian menjemput atau mempersilahkan (hehe).
Bunda Asma, terima kasih. Walau terbilang sangat terlambat membaca novel ini, tapi saya berdoa semoga ada kesempatan untuk menghabiskan waktu menonton bersama sahabat-sahabat terbaik dipenghujung tahun 2014. Agar kami bersama belajar, bahwa persoalan cinta itu tidak sesulit mengejar beasiswa program pascasarjana (LOH? haha)
Novel ini berakhir happy ending, tapi menurut saya kisah didalamnya itu haru. Bunda Asma menyuguhkan berbagai cerita cinta yang berkualitas. Siapapun, seorang muslim akan terenyuh membaca kisah Mush'ab bin Umar. Aah betapa kecil pengorbanan cinta manusia saat ini dibanding kecintaan para syahid yang bermandikan darah, terpenggal anggota tubuh untuk pembuktian cintanya. Zhongwen pun awalnya non-muslim, sampai dia terpanggil, dan belajar Islam. Cintanya pada Ashima menyadarkan dan mendekatkan dia pada cinta yang hakiki, pada keselamatan, Islam.
Saya selesai menyelesaikan novel ini kurang dari lima jam, memaksa saya untuk segera menyelesaikan membaca. Seringnya kesel pas ada nama Anita dan Dewa. Benar, Dewa dan Anita menjadi suami istri, tapi kalian akan tahu, "hati dan jiwa Dewa hanya untuk Ra seorang" itulah yang terus dikatakan. Bagian yang paling seru tentu saja dimiliki oleh Zhongwen dan Ashima, eh Asma.
"Yes, you have a gift in learning new language, Ashima."
"Asma"
"Ashima"
Lelaki
itu tersenyum lembut, bersikeras tidak mengubah panggilannya. Tidak juga
memberitahu arti kalimat terakhir yang diajarkannya, walaupun Asma meminta
berulang kali. Yang penting, menurut Zhongwen, kalimat itu bukan sesuatu yang
tidak pantas diucapkan seorang gadis terhormat.
“Just
practise, Ashima.”
“Asma.”
“No,”
lelaki itu menggeleng,
“Forever
you are Ashima, for me.”
Senyum
simpatiknya muncul. Perdebatan selesai.
Bahkan Zhongwen, yang saat itu belum beragama Islam, bisa untuk menahan dan menghormati Asma. Aaah benar saja, lelaki selalu dilihat dari perkataannya, dari sejauh mana dia bertindak ^_^
"Jika tak kau temukan cintamu, biarkan cinta yang menemukanmu." saat itu Zhongwen kehilangan Ashima-nya (read: Asma), dia yang sulit memahami perasaan terus berperang menyimpulkan apakah itu rindu? atau cinta? Sampai pada satu titik, dia benar-benar merasa kehilangan dan membutuhkan, Ashima-Nya begitu berharga.
Finally? So that?
Siapapun yang belum membaca novel ini, jangan lewatkan 30 Desember 2014 akan tayang di bioskop. Saya sarankan untuk membaca novelnya dulu. Cerita ini benar-benar dikemas untuk orang-orang yang mudah patah hati, bahkan para pengecut sekalipun. Biar mudah move on, tidak mudah tergoda, dan garis besar dari cerita ini mengatakan bahwa; cinta sejati itu ada! Sudah Allah takdirkan, tinggal dijemput dengan akad. Bukankah cinta itu hanya tentang satu hal yaitu keberanian? Keberanian menjemput atau mempersilahkan (hehe).
Bunda Asma, terima kasih. Walau terbilang sangat terlambat membaca novel ini, tapi saya berdoa semoga ada kesempatan untuk menghabiskan waktu menonton bersama sahabat-sahabat terbaik dipenghujung tahun 2014. Agar kami bersama belajar, bahwa persoalan cinta itu tidak sesulit mengejar beasiswa program pascasarjana (LOH? haha)
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung ^_^