Sabtu, 13 Desember 2014

Putus Cinta dan Perempuan

Kejadian ini terjadi pada Jumat, 12 Desember 2014 dimana saya selaku pendengar curhatan, iya bukan si korban. Sebut saja si korban, dia lelaki; tidak begitu tampan dan tidak jelek juga. Ternyata kawan saya ini memang terlihat murung dan lihatlah tertawanya tidak bebas, kabut diwajahnya menandakan duka; putus cinta, itu jawabannya. Sellidik punya selidik, tidak membalas pesan sang kekasih karena ketiduranlah menjadi pemicu kisah nelangsa ini. Saya dengan baik mendengar, kadang saya mengangguk, terdiam, menggeleng dan bersuara "Selamat datang; Jomblo, S.Pd" jelas ini membuat dia tertawa; mungkin antara kesel dan aneh (tak mengapa, yang penting si korban gak nangis sesegukan), polos dia bertanya dengan wajah khawatir dan mikir "Terus nanti pendamping wisuda saya siapa?" Pertanyaan ini saya jawab dengan senyum tidak simetris, teman lain menimpali dengan tawa yang membuat ruang ini gaduh.

Putus cinta menjadi hal yang lumrah terjadi dikalangan manusia. Bahkan yang sudah menikah pun bisa mendapati kasus ini. Tapi sangatlah miris, jika yang sudah berusia diatas 20 tahun masih membuang waktu dengan isak tangis atau menyikapinya dengan dingin. Alasan dari kasus ini kebanyakan karena ketidakcocokan; terutama kebiasaan. Spontan saya bilang "ya kalau udah gini biarkan intropeksi dulu. Sejatinya cinta itu melepaskan..." satu teman saya menimpali "..melepaskan keegoisan." Si korban terdiam dan mengangguk.

Ketika saya mendapati dua kawan lelaki lainnya berpikir dan memandang wajah si korban penuh iba, saya membuka diskusi ringan tentang perempuan (kebetulan saat itu saya adalah satu-satunya perempuan yang baru hadir). Diskusi tentang perempuan. Saya penasaran, apakah dua kawan ini pernah merasakan hal yang sama dan apa penyebabnya. Keduanya ternyata memiliki jawaban yang sama; karena ketidakcocokan kebiasaan dan sifat. Sejatinya pasangan itu melengkapi, namun statement ini tidak mudah dipahami oleh berbagai otak (aah selalu perasaan memiliki sistem aturan tersendiri). Mereka bilang putus cinta bagi kaum lelaki itu pelajaran, sedang kebanyakan perempuan berteriak bahwa hal tersebut sebuah penyiksaan; nyimpang banget kan? Ya itulah kaum adam dan hawa, bersimpangan tapi tetap bisa berdampingan dengan satu catatan: saling memahami. Langsung teringat apa kata J.K Rowling "Understanding is the first step to acceptance, and only with acceptance can there be recovery."

Perempuan. Dalam pandangan dua kawan lelaki saya ini, mereka mengambil langkah mengakhiri hubungan saat itu karena sifat perempuan yang sering marah, terlalu pencemburu, bertindak semaunya. Mereka berdalih lelaki lebih suka perempuannya menjadi dirinya sendiri dihadapan lelakinya. Ahhh imbuhan -nya dalam kata perempuan dan lelaki disini sangat ambigu! Ingat apa yang ditulish Tere Liye dalam novel terbaru, Rindu "Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukan milik kami?"

Lalu apa hubungan antara putus cinta dan perempuan?
Perempuan akan terlalu cepat mengambil kesimpulan, dan lelaki mencoba mempertahan hubungan dengan tidak menurunkan egonya. Perempuan akan lebih sering menyesal, dan berharap datang kabar dan ucapan maaf. Lelaki lebih sering membiarkan sesuatu berjalan. Dalam satu persoalan perempun tidak pernah salah, yaitu tentang perasaan. Itulah sebabnya dalam kasus ini lelaki harus tetap meminta maaf terlebih dulu, karena ingat perempuan itu pandai memaafkan, ya pandai juga menagih janji (hhaha). Putus cinta menjadi hal yang berbeda bagi perempuan dan lelaki dalam bersikap; saling menjaga keegoisan untuk memulai; setidaknya memadamkan api dengan kata maaf dan terima kasih. Dua kalimat terakhir ini tidak akan menurunkan berat badan kita, eh maksudnya menurunkan harkat martabat kok :)

Menutup diskusi, saya hanya bertanya pada si korban "sebelumnya berapa lama kamu sama dia gak saling tanya kabar/ ketemu?" dia jawab "yaa seminggu dua minggu.."
"Yaudah kamu tunggu aja seminggu ini, kemungkinan besar si cewek akan menggubungi kamu duluan. Yaa kalau ternyata belum ada kabar, lebih baik kamu minta maaf duluan."

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ^_^

Text Widget

Copyright © Never Stop on the Way | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com