Satu seorang ayah, orang nomor satu di fakultasku, FKIP. Terkenal sangat tegas, teliti, dan disiplin.
Satu seorang ibu, dosen cantik berkerudung lebar yang memperhatikan betul tentang fashion. Anggun, cerdas, baik hati pula. Ayahanda dan ibunda yang telah membimbing saya, seorang anak, yang diibaratkan memakai tas gendong bersemangat ke sekolah namun baru berisikan angin. Seorang anak yang telah banyak belajar dalam kurun waktu kurang dari lima bulan.
Ayahanda, Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Pd.
Ketegasan
Diawal bimbingan, beliau membuka layanan email. Mahasiswa bimbingannya wajib mengirimkan referensi minimal 25 buku/jurnal. 10 terkait tentang variabel bebas, 10 tentang variabel terikat, dan 5 untuk referensi pendukung. Baru awal sudah dibuat mabuk kepalang bagi mereka yang kurang persiapn referensi. Tegas, jika referensi dianggap belum memadai, beliau tidak akan melayani bimbingan ke langkah lebih lanjut, yaitu chapter I. Langkah awal saya tidak mengalami kendala karena referensi sudah jauh hari saya siapkan. Alhamdulillah.
Ketelitian
Memasuki penyusunan chapter 1 tidak begitu banyak kendala. Saya mulai merasa mual dan pusing saat menggarap chapter II tentang teori. Beliau sangat teliti atas apa yang sudah saya tulis, letak halaman pada buku referensi, tahun terbitan jurnal, hingga kutipan-kutipan yang terlalu panjang. Pernah saya mendapat balasan email yang membuat hati jlebb, "bab ini miskin rujukan". Saya nulis chapter II seminggu dua minggu, berpuluh lembar, dibalas begitu. Well, I am in learning process. Fighting! Saya harus bersyukur dan merasa senang hati, karena mendapat balasan dari prof. Banyak dari mahasiswa bimbingannya yang tak kunjung mendapat balasan, atau bahkan belum memberanikan diri mengirim tugas mereka. Mendapat respon tersebut saya tertantang untuk revisi secepat dan setepat mungkin. Karena apa? Setidaknya prof tahu kalau saya bersungguh-sungguh dan semangat untuk lulus tepat waktu. Itu point terpenting bagi saya. Jika balasan yang dianggap nyelekit itu saya tanggapi dengan negatif? Tentu saya akan bermalas-malasan dan bablas hidup bergelar M.A.; mahasiswa abadi. hehe.. Terus begitu sampai ACC sidang, saya selalu bersemangat untuk bimbingan. Saya kejar beliau di setiap kesempatan. Saking teliti beliau, kata persembahan yang saya buat pun harus di revisi. Hahaa
Kedisiplinan
Beliau adalah orang sibuk, sibuk mengajar, sibuk membaca, sibuk mengurusi mahasiswa, ini dan itu. Jadwal bimbingan selama tiga hari dalam seminggu dari pukul 8-12 siang. Beruntung jika bisa bimbingan diluar jadwal yang ditentukan. Ada satu kejadian yang membuat saya malu, sangat malu. Saat mengerjakan chapter IV tentang pengolahan data, saya dibuat mual oleh angka dan penjabaran. Sebelumnya beliau mengharuskan saya membaca buku yang dikarang olehnya, tentang penyusunan skripsi. Padahal beliau hanya membalas "baca buku saya bagaimana dalam penyusunan skripsi". Saya bisa menemukan apa-apa yang salah dan apa-apa yang harus saya tulis tanpa beliau katakan langsung, tanpa perlu corat-coret. Haha.. Kejadian lain, pernah beliau meminta saya datang menemui dengan membaw chapter IV: temui saya hari senin pukul 9. Dilalahnya saya datang pukul 10 kurang. "Kamu tahu ini jam berapa? Saya itu sudah terjadwal. kamu jangan main-main.." Jlebb, saya salah. Mulai saat itu jika saya ada jadwal, 5-15 menit saya sudah ada di lokasi. Malah pernah beliau dengan senyum (yang sulit diartikan) berkata: "Kamu terlalu cepat 5 menit Ara". Hehe..
Satu seorang ibu, dosen cantik berkerudung lebar yang memperhatikan betul tentang fashion. Anggun, cerdas, baik hati pula. Ayahanda dan ibunda yang telah membimbing saya, seorang anak, yang diibaratkan memakai tas gendong bersemangat ke sekolah namun baru berisikan angin. Seorang anak yang telah banyak belajar dalam kurun waktu kurang dari lima bulan.
Ayahanda, Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Pd.
Ketegasan
Diawal bimbingan, beliau membuka layanan email. Mahasiswa bimbingannya wajib mengirimkan referensi minimal 25 buku/jurnal. 10 terkait tentang variabel bebas, 10 tentang variabel terikat, dan 5 untuk referensi pendukung. Baru awal sudah dibuat mabuk kepalang bagi mereka yang kurang persiapn referensi. Tegas, jika referensi dianggap belum memadai, beliau tidak akan melayani bimbingan ke langkah lebih lanjut, yaitu chapter I. Langkah awal saya tidak mengalami kendala karena referensi sudah jauh hari saya siapkan. Alhamdulillah.
Ketelitian
Memasuki penyusunan chapter 1 tidak begitu banyak kendala. Saya mulai merasa mual dan pusing saat menggarap chapter II tentang teori. Beliau sangat teliti atas apa yang sudah saya tulis, letak halaman pada buku referensi, tahun terbitan jurnal, hingga kutipan-kutipan yang terlalu panjang. Pernah saya mendapat balasan email yang membuat hati jlebb, "bab ini miskin rujukan". Saya nulis chapter II seminggu dua minggu, berpuluh lembar, dibalas begitu. Well, I am in learning process. Fighting! Saya harus bersyukur dan merasa senang hati, karena mendapat balasan dari prof. Banyak dari mahasiswa bimbingannya yang tak kunjung mendapat balasan, atau bahkan belum memberanikan diri mengirim tugas mereka. Mendapat respon tersebut saya tertantang untuk revisi secepat dan setepat mungkin. Karena apa? Setidaknya prof tahu kalau saya bersungguh-sungguh dan semangat untuk lulus tepat waktu. Itu point terpenting bagi saya. Jika balasan yang dianggap nyelekit itu saya tanggapi dengan negatif? Tentu saya akan bermalas-malasan dan bablas hidup bergelar M.A.; mahasiswa abadi. hehe.. Terus begitu sampai ACC sidang, saya selalu bersemangat untuk bimbingan. Saya kejar beliau di setiap kesempatan. Saking teliti beliau, kata persembahan yang saya buat pun harus di revisi. Hahaa
Kedisiplinan
Beliau adalah orang sibuk, sibuk mengajar, sibuk membaca, sibuk mengurusi mahasiswa, ini dan itu. Jadwal bimbingan selama tiga hari dalam seminggu dari pukul 8-12 siang. Beruntung jika bisa bimbingan diluar jadwal yang ditentukan. Ada satu kejadian yang membuat saya malu, sangat malu. Saat mengerjakan chapter IV tentang pengolahan data, saya dibuat mual oleh angka dan penjabaran. Sebelumnya beliau mengharuskan saya membaca buku yang dikarang olehnya, tentang penyusunan skripsi. Padahal beliau hanya membalas "baca buku saya bagaimana dalam penyusunan skripsi". Saya bisa menemukan apa-apa yang salah dan apa-apa yang harus saya tulis tanpa beliau katakan langsung, tanpa perlu corat-coret. Haha.. Kejadian lain, pernah beliau meminta saya datang menemui dengan membaw chapter IV: temui saya hari senin pukul 9. Dilalahnya saya datang pukul 10 kurang. "Kamu tahu ini jam berapa? Saya itu sudah terjadwal. kamu jangan main-main.." Jlebb, saya salah. Mulai saat itu jika saya ada jadwal, 5-15 menit saya sudah ada di lokasi. Malah pernah beliau dengan senyum (yang sulit diartikan) berkata: "Kamu terlalu cepat 5 menit Ara". Hehe..
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung ^_^