Rabu, 03 Desember 2014

Untukmu Selingkuhanku

Siang ini biarkan saya menulis sebagai kado untuk seorang sahabat yang akan melepas masa lajangnya :)
Perempuan ini terlihat sangat tomboi saat masuk dunia perkuliahan. Tapi kamu akan lihat drastis perubahan yang dia buat, hingga mencapai akad.

Juli 2010. Semester satu. Masih teringat jelas, pandang dan jumpa bersamanya. Saat itu pertemuan perdana bersama dosen wali yang hanya dihadiri oleh 6 orang dari 24 mahasiswa terdaftar. Saya menatap sekitar, ruang 1.3 yang lebih kecil dan dingin dibanding kelas lain (sekarang menjadi ruang rapat dan kerja dosen). Mencuri pandang pada wajah baru, teman-teman baru. "Lalu siapa yang akan menjadi KM? Kelas kita butuh koordinator kelas.." Bu Iis membuyarkan lamunanku, sedikit kaget dan berpikir "siapa?" Kini saya memberanikan diri menoleh, melihat wajah teman-teman yang juga sedang berpikir. Ternyata, satu diantara mereka ada yang sedang memberanikan diri, meyakinkan diri dan suara itu "Saya bu. Endang Susilowati". Semua pandang tertuju padanya, saya reflek melihat penampilannya bercelana tentara gombrang, kemeja dan kerudung yang sekedar kain. "Cantik, tapi tomboi ini pasti. Asiklah ada temen" cengengesan dalam hati, penasaran. Mungkinkah ini cinta pada jumpa pertama? #plak :D

Pertemuan kali itu menjadi awal semua pergerakanku di kampus. Menjadi sekretaris dan terus mendampingi si KM ternyata sangat seru dan cukup melelahkan (kamu akan rasakan sendiri, ndak bisa ditulis. Ya apalagi kalau kamu selaku tukang jarkom/informan gitu). Suatu kesempatan saya diantar dia pulang, terkejutnya saat lihat si KM ini mengendarai moge (motor gede) Mega Pro. "Well, sudah ketebak, mana mungkin ini cewek pake motor mio".
Keluarga jadi kenal, dan seringlah kami pergi bersama untuk kuliner atau sekedar cuci kantong, satu kelompok, satu organisasi.

Semester tiga. Ketika dia mulai masuk dan kenal Islam lebiiiiih dalam, mulai mikir dan dia bercerita "mbok. kita isin pas datang syuro pada ndelengi kabeh. Klalen pake clana, motor gede. Yawis kita tuntun bae motore, parkir sing adoh". Curhatnya satu ketika, tampak serius, dan itu sangat merubah penampilannya hari esok dan esok. Kejutan, motor telah berganti ke mio dan roknya sangat indah tertiup sepoi angin. Aduhai, si KM ini ternyata lebih memiliki sifat keibuan yang melekat dibanding sifat tomboinya itu, terlebih ketika ibunya melahirkan adik perempuan yang lucu dan cantik, Dewi. Sejak saat itu, otomatis dia menjabat menjadi KM dan ibu muda, membantu mengurus adiknya. Sejak saat itu pula, dia sering telat masuk kelas, beralasan "ganti popok adik, mandiin, kasih makan.." mengingat atau mendengar hal itu menghadirkan tawa, bukan meledek tapi salut.

Semester lima, enam. Saya dibuat iri. Lihat saja, dia telah berhasil hijrah. Kerudungnya dilebarkan, walau masih belum istiqomah, tapi bandingkan saat awal bertemu. Sifatnya lebih keibuan dibanding kami, apalagi dia suka bawa bekal makanan. Pernah saat itu dia membawa chicken plus nasi uduk. Sudah seperti ibu yang ingat anaknya, dia bawa dua bungkus. Aah iya, keluarganya pengusaha makanan, jadi wajar kalau dia jago masalah bumbu dan dapur (wajar juga kalau temen2 suka dapat makanan gratis/ diajak kuliner. haha)

Semester tujuh, delapan. Ini bagian sensitif, perjuangan mahasiswa tingkat akhir. Dia tidak pernah mengeluh lelah, bisnis keluarganya sangat maju, itu juga menyebabkan dia harus kerja rodi. Satu yang saya tangkap dari dia, hanya memerlukan support dan pemahaman akan kondisi dan posisinya. Kejutan lagi, dia didaftarkan sebagai calon legislatif (Anggota DPRD salah satu partai). Maka riuh panggilan ibu caleg menempel padanya. Haha, kami teman-teman dekat resmi menjadi tim sukses abal-abal. Hahaha. Salutnya, dia selalu tau, siapa dan dimana. Yaa walau seringnya bimbang dan butuh penguat dalam melaksanakan tindakan. Saya percaya untuk tugas akhir akan dia selesaikan, satu yang terus dia ulang katakan: pengabdian pada orang tua lebih penting, saya anak pertama biar perempuan saya punya banyak adik. Biar mereka tidak memaksa saya untuk membantu, tetap harus dilakukan. "All the best for you bondang, Doaku padamu...."
 
Sempat mikir, kalau iya dia jadi artis, pasti bakal ngalahkan Syahrini yang sesuatuuuu. Sekarang dia pindah pakai motor Scoopy, perpadua merah jambu dan putih. Sudah tidak pernah lagi pakai celana saat ngampus dan di warung. Urusan kampus dan rumah membuatnya (hampir) lupa akan satu kata: cinta.Perempuan preman pun punya hati dan ingin dijaga, diperjuangkan karena cinta. Tidak usah munafik, setiap insan pastii merasakan, hanya menyikapinya saja yang berbeda-beda. Nah ini, kadonya. Terbungkus sangat rapih dan tidak tertebak oleh akal manusia. Allah yang atur semua skenario. Manusia hanya berkewajiban berusaha, memantaskan diri. Kabar kalau dia akan melangsungkan akad pada Jumat, 5 Desember 2014. Gema sholawat dan dzikir saat tahu, BARAKALLAH LAKA WA BARAKA 'ALAIKA WA JAMA'A BAINAKUMA FIL KHAIR. Mana bisa hati menolak ketika dia meminta saya untuk bersedia menjadi MC di acara sakral tersebut. "Aaah, selingkuhanku merried duluan, saya kapan??" #PLAK
Baiklah, dengan berganti status lajang menjadi sudah menikah, maka resmi dia bukan selingkuhanku lagi. Selamat menjalani hidup sakinah, mawadah, warohmah...

Penutup cerita siang ini, bolehlah saya kutip apa kata Tere Liye: Cinta itu jangan dipaksakan, jangan diburu-buru karena nanti kita yang akan merusak jalan ceritanya sendiri.



0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ^_^

Text Widget

Copyright © Never Stop on the Way | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com